Pembayaran Minim Kontak Diprediksi Semakin Ngetren di Kalangan Wisatawan

0

ihgma.com, Jakarta – Perjalanan minim kontak alias contactless journey diprediksi menjadi standar baru tren wisata, terutama saat pelancong lintas negara melakukan pembayaran. Tak hanya di skala global, kini masyarakat Indonesia pun mengedepankan low-touch journey.

Head of strategy and business planning Visa Indonesia, Handikin Setiawan, menyampaikan bahwa pembayaran dengan kartu contactless menawarkan pengalaman membayar yang aman, mudah, nyaman, dan inovatif. Metode pembayaran itu sudah menjadi pilihan utama di berbagai belahan dunia.

“Pembayaran contactless memudahkan masyarakat yang bepergian lintas negara,” ujar Handikin pada sesi talk show virtual besutan Visa dan Traveloka yang berjudul “Tren Traveling Lintas Negara untuk Healing Anti-Ribet: A Contactless Journey” seperti dilansir Republika, Rabu (14/11/2022).

Berdasarkan studi Global Travel Intentions Visa, ada 420 persen peningkatan keinginan pelancong menjadi smart traveler saat merencanakan perjalanan. Studi yang mencakup minat dan preferensi perjalanan masyarakat itu berlangsung Maret 2022 hingga Juli 2022.

Salah satu aliran subak yang dipertahankan di dalam kompleks Hoshinoya Bali yang berlokasi 20 menit dari pusat wisata Ubud di Gianyar, Bali. Hasil studi Visa mengungkap Ubud merupakan destinasi yang paling ingin dikunjungi wisatwan. Foto: dok Hoshinoya
Salah satu aliran subak yang dipertahankan di dalam kompleks Hoshinoya Bali yang berlokasi 20 menit dari pusat wisata Ubud di Gianyar, Bali. Hasil studi Visa mengungkap Ubud merupakan destinasi yang paling ingin dikunjungi wisatwan.
Foto: dok Hoshinoya

Peningkatan yang ada jika dikomparasikan dengan periode November 2021 hingga Februari 2022. Sebanyak 81 persen responden memilih metode pembayaran dengan kartu kredit dan transaksi contactless sehingga meminimalisasi sentuhan selama melancong.

Temuan lain dari studi ini juga menunjukan bahwa masyarakat semakin mencari fleksibilitas perjalanan yang memungkinkan mereka untuk mencari refundable ticket (48 persen). Ada pula 46 persen penurunan kebutuhan perjalanan terkait pandemi, seperti keharusan vaksin, tes Covid-19, dan asuransi khusus Covid-19.

Sebanyak 25 persen pelancong mempertimbangkan berwisata untuk tujuan healing dan relaksasi dari kepenatan. Luxury travel pun semakin dipilih oleh segmen kelas atas. Sebanyak 58 persen mencari hotel mewah bintang lima, 14 persen mencari resor dan vila mewah, dan sembilan persen mencari restoran fine dining saat berwisata.

Menurut hasil studi Visa, destinasi internasional favorit masyarakat pascapandemi ialah Singapura (24 persen), Malaysia (15 persen), Thailand (14 persen), Jepang (13 persen), serta Amerika Serikat (delapan persen). Di ranah domestik, Padang (Sumatra Barat) menjadi destinasi favorit yang informasinya paling sering dicari (49 persen), sedangkan Ubud (Bali) merupakan destinasi yang paling ingin dikunjungi (88 persen).

Handikin menyoroti kecenderungan travel revenge alias wisata balas dendam. Saat pandemi merebak, banyak orang tidak bisa pelesiran. Begitu pandemi mereda, banyak orang ingin “balas dendam”, karena hasrat berjalan-jalan sudah lama terpendam dan terbendung. Pelancong pun ingin kembali merasakan pengalaman unik ketika berwisata.

“Keinginan masyarakat tetap bervariasi. Traveling sebaiknya disesuaikan dengan gaya hidup dan keinginan masing-masing. Nikmati momennya tapi tetaplah menerapkan protokol kesehatan yang berlaku,” tutur Handikin.

Leave A Reply

Your email address will not be published.