ihgma.com – Lebih dari 70 persen akomodasi di Jepang sedang menghadapi krisis tenaga kerja di tengah lonjakan wisatawan mancanegara. Pemerintah Jepang melakukan survei terhadap 522 fasilitas akomodasi pada Desember-Januari 2025.
Hasilnya, 72,2 persen akomodasi menyatakan bahwa mereka kekurangan tenaga kerja, seperti dilansir Kompas dari Kyodo News, Sabtu (11/7/2026).
Di sisi lain, Jepang tengah mengalami lonjakan pariwisata mancanegara yang dipicu oleh melemahnya yen terhadap mata uang sejumlah negara, termasuk dolar Amerika Serikat (AS).
Hal ini membuat biaya perjalanan ke Jepang menjadi lebih murah bagi sejumlah wisatawan mancanegara.

Meskipun konflik di Timur Tengah telah memberikan dampak negatif pada industri pariwisata dalam beberapa bulan terakhir, jumlah wisatawan mancanegara di Jepang mencapai lebih dari 40 juta pada 202.
Angka itu tercatat menjadi rekor tertinggi pariwisata Jepang dalam sejarah. Pemerintah Jepang juga menargetkan untuk peningkatan jumlah tersebut menjadi 60 juta kunjungan wisatawan mancanegara pada 2030.
Beban kerja staf hotel meningkat
Dikutip dari The Japan Times, penginapan kelas menengah dengan nilai penjualan antara 100 juta yen hingga 1 miliar yen per tahun (Rp 11 miliar hingga Rp 111 miliar) menjadi jenis usaha yang paling terdampak krisis tenaga kerja.
Sebanyak 77,1 persen dari 280 akomodasi yang disurvei mengakui hal tersebut. Survei juga menunjukkan bahwa lebih dari 90 persen akomodasi kelas menengah tersebut mempekerjakan kurang dari 100 karyawan, bahkan hampir setengahnya hanya memiliki kurang dari 30 karyawan.
Kondisi ini membuat banyak akomodasi kesulitan memenuhi kebutuhan operasional di tengah lonjakan jumlah wisatawan.