Sosok di Balik Desa Potato Head, Masuk dalam 50 Hotel Terbaik di Dunia 2025

0

ihgma.com, Jakarta – Daftar The 50 Best kembali meluncurkan daftar 50 hotel terbaik di dunia, dan salah satu hotel di Indonesia masuk dalam daftar tersebut.

Tahun ini, Desa Potato Head di Bali kembali masuk dan memenangkan penghargaan Eco Hotel Award 2025, sebagai hotel ramah lingkungan terbaik di dunia.

Dalam daftar 50 hotel terbaik, Desa Potato Head juga menduduki peringkat ke-18, bersanding dengan hotel-hotel besar seperti Ritz Carlton hingga Aman Group.

Desa Potato Head berawal dari sebuah klub pantai di sudut Seminyak yang tenang, hotel ini kini berkembang menjadi ‘desa kreatif’ multi-ruang, yang terdiri dari suite, studio, dan pusat komunitas.

Filosofi dasar hotel ini didasarkan pada praktik ramah lingkungan, dengan nol plastik sekali pakai dan pengurangan limbah yang tak tertandingi, yang menjadi beberapa alasan mengapa hotel ini meraih Eco Hotel Award 2025.

Di seluruh gerai makanan dan minuman hotel, setiap langkah telah terbukti ramah lingkungan dengan pengurangan limbah dan sumber etis sebagai tujuan utama.

Bahan-bahan yang digunakan di seluruh properti berasal dari 163 petani dari perkebunan bebas bahan kimia dan dikirimkan dalam daun pisang atau peti yang dapat digunakan kembali, dengan hotel melarang plastik sekali pakai di seluruh properti pada tahun 2017. Saat ini, hotel hanya mengirimkan 0,5% limbahnya ke tempat pembuangan sampah.

Desa Potato Head juga mendorong hasil karya dari pengrajin, termasuk lukisan dan patung yang mengesankan, juga dapat ditemukan di hampir setiap ruang di properti tersebut.

Dengan prestasinya saat ini, siapa sosok di belakangnya?

Sosok di balik hotel paling ramah lingkungan ini adalah Ronald Akili, pengusaha kelahiran Jakarta yang kini berkarier di Singapura.

Pria berusia 44 tahun ini, yang pindah ke Singapura pada 2020 ini adalah putra ketiga dari taipan Indonesia Rudy Akili, yang mendirikan Smailing Tour pada tahun 1976, salah satu agen perjalanan terkemuka di Indonesia. Rudy Akili juga merupakan seorang kolektor seni terkemuka, yang mendirikan Museum Seni Akili di Jakarta seperti dikutip dari berita Bisnis.

Inspirasinya membangun hotel tumbuh sejak muda karena kegemarannya bepergian. Bahkan, pekerjaan pertamanya adalah menjadi pemandu wisata di bisnis keluarganya.

Meskipun terlahir dalam keluarga yang kaya raya, Rudy tetap berambisi untuk merintis usahanya sendiri. Pada usia 13 tahun, dia pindah ke Hawaii untuk melanjutkan pendidikannya.

Di sana, dia memilih studi kewirausahaan sebagai jurusannya, dengan keyakinan bahwa suatu hari nanti, ia akan memulai usahanya sendiri.

Rudy akhirnya kembali ke Jakarta saat ia berusia 25 tahun. Di kota kelahirannya, dia mendirikan galeri seni bersama teman sekaligus rekan bisnisnya, Jason Gunawan.

Dia kemudian merambah bisnis properti dengan membangun sebuah perumahan mewah di Jakarta, yang dirancang oleh beberapa arsitek ternama di negeri ini.

Potato Head menjadi usaha ketiganya, dan Rudy tidak pernah membayangkan usahanya akan berkembang sebesar sekarang ini. Pasalnya, semuanya berawal dari sebuah restoran di Jakarta.

Potato Head awalnya adalah nama restoran di Jakarta yang Rudy bangun untuk istrinya, yang menjadi seorang koki di London, Inggris.

Restoran tersebut segera berkembang pesat setlah dibuka. Dihiasi karya-karya seniman lokal terpajang di dinding, sementara menunya menyajikan makanan klasik yang nyaman. Sebagai restoran trendi dan kasual, restoran ini menonjol di antara banyaknya restoran elegan dan mewah di Jakarta.

Kesuksesan restoran ini mendorong Rudy untuk mengubah perusahaan menjadi merek global.

Pada 2010, Rudy dan timnya kemudian mengakuisisi lahan seluas tiga hektar di Bali, dengan rencana pengembangan bertahap. Sejak awal, ia berhasrat membangun merek gaya hidup global dari Indonesia, dimulai dengan Potato Head Beach Club.

Selanjutnya, muncullah Katamama, sebuah hotel suite yang dirancang bekerja sama dengan arsitek Indonesia Andra Matin, dan diresmikan pada tahun 2015.

Tahap ketiga dan terakhir adalah pembangunan taman bermain kreatif yang luas, yang terdiri dari hotel Potato Head Studios yang memiliki 168 kamar.

Dirancang oleh arsitek David Gianotten dari OMA, firma Belanda yang didirikan oleh Rem Koolhaas, tempat ini menjadi tempat di mana wisatawan dapat berinteraksi dengan komunitas lokal, menampilkan pusat kreatif dengan ruang-ruang yang didedikasikan untuk keberlanjutan.

Jadi Ramah Lingkungan dan Berkelanjutan

Rudy mengakui bahwa konsep berkelanjutan dan ramah lingkungan tak menjadi prioritas utama perusahaan pada awalnya.

Namun, beberapa tahun yang lalu, ketika Rudy berselancar di Bali bersama putra sulungnya, dia menyaksikan sendiri bagaimana ketika menyelam di bawah laut dia dikelilingi sampah, dan ketika kembali ke pantai, dia juga melihat sendiri ada lebih dari 1 km sampah menumpuk, hampir setinggi lutut.

Demi anak-anaknya di masa depan, dia ingin membuat sebuah langkah perubahan, dan memulainya lewat bisnisnya.

Di Desa Potato Head, 97% sampah dikelola secara internal, dengan hanya 3% yang dibuang ke tempat pembuangan akhir (TPA).

Perabot dan fasilitas dibuat dari bahan-bahan lokal dan ramah lingkungan. Bahan-bahan tersebut antara lain ijuk, bahan atap lokal, bata ringan buatan tangan, teraso yang terbuat dari bongkahan beton bekas, dan panel langit-langit yang ditenun oleh pengrajin lokal dari 1,7 ton botol plastik daur ulang.

Leave A Reply

Your email address will not be published.