Tiket Pesawat Makin Mahal, Pariwisata Asia Tenggara Ikut Terdampak Perang Iran
ihgma.com- Negara-negara yang mengandalkan sektor pariwisata di Asia Tenggara mulai merasakan dampak perang Iran. Kenaikan harga energi dan bahan bakar penerbangan membuat biaya perjalanan meningkat, sementara jumlah wisatawan di sejumlah destinasi mulai menurun.
Mengutik Kompas dari Associated Press (AP), Senin (2/6/2026), Thailand, Vietnam, dan Kamboja menjadi beberapa negara yang mulai menghadapi tekanan terhadap industri pariwisata akibat lonjakan harga minyak dan ketidakpastian global yang dipicu konflik di Timur Tengah.
Tiket pesawat makin mahal
Salah satu dampak yang paling cepat dirasakan adalah kenaikan biaya penerbangan. Harga bahan bakar pesawat yang meningkat membuat sejumlah maskapai harus menyesuaikan jadwal penerbangan maupun biaya perjalanan.
Selain itu, penutupan ruang udara di beberapa wilayah Teluk Persia pada awal konflik memaksa sejumlah maskapai mengambil rute yang lebih panjang sehingga biaya operasional bertambah.
Maskapai seperti Vietnam Airlines, AirAsia Group, dan Cathay Pacific dilaporkan melakukan penyesuaian operasional akibat tingginya harga bahan bakar.
Kondisi tersebut membuat sebagian wisatawan mulai menunda bahkan membatalkan rencana perjalanan mereka.
Thailand mulai kehilangan wisatawan
Thailand menjadi salah satu negara yang paling terdampak karena sektor pariwisata menyumbang hampir 13 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) negara tersebut.
Data Kementerian Pariwisata dan Olahraga Thailand menunjukkan jumlah wisatawan yang datang pada April 2026 turun 7 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Kunjungan wisatawan dari Eropa turun hampir 16 persen, sedangkan wisatawan dari Timur Tengah merosot hingga 57 persen. Bagi Thailand, penurunan jumlah wisatawan menjadi perhatian serius karena industri wisata merupakan salah satu penopang utama ekonomi negara.
Vietnam khawatir pemulihan wisata melambat
Di Vietnam, sektor pariwisata menyumbang hampir 9 persen terhadap perekonomian nasional. Pelaku usaha penginapan di Hanoi dan Ho Chi Minh City mulai melihat perubahan perilaku wisatawan.
Banyak wisatawan memilih mengurangi anggaran perjalanan atau beralih ke akomodasi yang lebih murah akibat meningkatnya biaya hidup dan perjalanan.
Kondisi ini dikhawatirkan dapat menghambat pemulihan sektor wisata yang masih berupaya bangkit setelah pandemi Covid-19.
Kamboja rasakan dampak hingga usaha kecil
Dampak perang juga dirasakan masyarakat yang menggantungkan penghasilan dari sektor pariwisata di Kamboja.
Di Siem Reap, kota yang menjadi pintu masuk menuju kompleks candi Angkor Wat, pengemudi tuk-tuk mengaku pendapatannya menurun seiring berkurangnya jumlah wisatawan.
Sementara itu, pelaku usaha kuliner menghadapi kenaikan biaya operasional akibat harga gas dan energi yang semakin mahal.
Departemen Pariwisata Siem Reap mencatat jumlah wisatawan domestik dan internasional pada empat bulan pertama 2026 turun 37,5 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Industri wisata menghadapi tantangan baru
Setelah berjuang pulih dari pandemi Covid-19, industri pariwisata Asia Tenggara kini menghadapi tantangan baru berupa kenaikan harga energi dan mahalnya biaya perjalanan udara.
Menurut analisis Moody’s Analytics yang dikutip AP, konflik tersebut berpotensi memangkas pertumbuhan ekonomi kawasan Asia-Pasifik sebesar 0,1 hingga 0,4 poin persentase pada 2026.
Bagi negara-negara yang ekonominya sangat bergantung pada wisatawan, berkurangnya jumlah pengunjung bukan hanya berdampak pada hotel dan maskapai, tetapi juga pada jutaan pekerja yang menggantungkan penghasilan dari sektor pariwisata.