Ni Luh Puspa, Wakil Menteri Pariwisata Republik Indonesia, Paparkan Tren dan Masa Depan Pariwisata Indonesia di President University

0

ihgma.com, Cikarang – President University kembali menghadirkan tokoh nasional dalam kegiatan akademiknya. Pada kesempatan ini, Ni Luh Enik Ermawati, atau yang akrab disapa Ni Luh Puspa selaku Wakil Menteri Pariwisata Republik Indonesia, menyampaikan kuliah tamu kepada mahasiswa dan dosen President University. Sesi ini berlangsung di Fabrication Lab, President University Convention Center (PUCC), Jababeka dan mendapatkan antusiasme tinggi dari peserta yang hadir.

Dalam paparannya, Puspa menjelaskan bagaimana sektor pariwisata dunia terus menunjukkan pertumbuhan yang signifikan. “Saat ini terdapat 1,4 miliar orang yang melakukan perjalanan lintas batas negara setiap tahunnya. Pergerakan ini menciptakan peluang kerja bagi 350 juta pekerja di seluruh dunia dan menghasilkan perputaran ekonomi hingga US$15,5 triliun,” jelasnya. Ia menegaskan bahwa angka tersebut menunjukkan betapa besarnya peran pariwisata dalam menggerakkan ekonomi global.

Puspa juga menyoroti perubahan tren wisatawan modern. Menurutnya, wisatawan saat ini tidak lagi hanya mencari hiburan sesaat, tetapi lebih tertarik pada pengalaman yang autentik, dekat dengan alam, budaya, dan nilai-nilai lokal. Pergeseran ini menjadi peluang besar bagi Indonesia yang kaya dengan keanekaragaman budaya dan tempat wisata berbasis alam.

Indonesia Menjadi Global Leading Destination

Puspa menjelaskan bahwa Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi global leading destination di sektor pariwisata. Ia menegaskan bahwa pariwisata bukan sekadar aktivitas berpindah dari satu tempat ke tempat lain, tetapi sebuah ekosistem besar yang mencakup berbagai sektor seperti akomodasi, kuliner, transportasi, gaya hidup, hingga industri kreatif. Seluruh sektor ini saling terhubung dan memberikan kontribusi signifikan bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Menurut Puspa, perubahan paradigma dalam dunia pariwisata global semakin membuka peluang bagi Indonesia. Wisatawan kini tidak hanya mencari hiburan singkat, tetapi menginginkan pengalaman yang lebih bermakna—mulai dari autentisitas, budaya, gaya hidup lokal, hingga keindahan alam. “Hal ini adalah kekuatan Indonesia,” ujarnya.

“Sekitar 70% wisatawan kini lebih menyukai akomodasi dan perjalanan yang ramah lingkungan, bahkan bersedia membayar lebih untuk layanan yang memiliki sertifikasi keberlanjutan seperti green hotel,” tambahnya seperti dikutip dari berita Industry. Tren ini menunjukkan bahwa preferensi wisatawan semakin bergerak ke arah pariwisata yang bertanggung jawab dan berkelanjutan.

Sejalan dengan perubahan tren wisata global, pemerintah Indonesia kini mengalihkan fokus dari mass tourism menuju quality tourism dan sustainable tourism. Paradigma baru ini menempatkan pengalaman wisata yang bermakna sebagai prioritas utama, bukan lagi semata-mata mengejar jumlah kunjungan wisatawan. Pendekatan tersebut menuntut pengembangan destinasi wisata yang mampu menghadirkan nilai lebih—baik dari sisi budaya, keindahan alam, hingga interaksi autentik dengan masyarakat lokal—sehingga wisatawan memperoleh pengalaman yang lebih berkualitas dan berkesan.

Sejalan dengan upaya meningkatkan kualitas pengalaman tersebut, pemerintah juga mulai memperluas fokus pengembangan destinasi. Untuk mengurangi ketergantungan pada Bali sebagai pusat pariwisata utama, pemerintah telah menetapkan 10 destinasi prioritas serta 3 area regeneratif. Kebijakan ini bertujuan untuk menyebarkan arus wisatawan ke berbagai wilayah Indonesia, menciptakan pemerataan ekonomi, serta mendorong tumbuhnya ekosistem pariwisata yang lebih berkelanjutan di daerah.

Selain menekankan peran penting wisatawan mancanegara sebagai penyumbang devisa negara, Puspa mempertegas bahwa wisatawan nusantara juga memiliki kontribusi besar dalam menjaga keberlanjutan sektor pariwisata nasional. Dukungan dan partisipasi aktif masyarakat Indonesia menjadi fondasi penting bagi pembangunan pariwisata yang inklusif, berdaya saing, dan berkelanjutan.

Peran Gen Z Memajukan Wisata Indonesia

Dalam paparannya, Puspa menekankan bahwa Gen Z memegang peran strategis dalam masa depan pariwisata Indonesia. Menurutnya, 27% populasi Indonesia merupakan Gen Z, dan kelompok ini bukan hanya calon pemimpin bangsa, tetapi juga memiliki pengaruh besar dalam keputusan perjalanan wisata keluarga. Suara dan aksi mereka dapat mempengaruhi hingga 70% populasi lainnya. “Kalian adalah masa depan terbaik di Indonesia,” ujarnya kepada para mahasiswa President University.

Ia menjelaskan bahwa Gen Z kini berperan sebagai influencer dalam ekosistem pariwisata. Apa pun yang mereka unggah di media sosial dapat membentuk persepsi publik dan mendorong minat berwisata. Karena itu, Puspa mendorong mahasiswa untuk melihat diri mereka sebagai agen perubahan. Melalui konten positif, kolaborasi dengan destinasi wisata, atau misalnya melalui kegiatan volunteer tourism yang kemudian dapat mereka viralkan, Gen Z memiliki kemampuan untuk menciptakan dampak nyata bagi perkembangan pariwisata Indonesia. “Kita bisa menjadi leader dimulai dari hal kecil di sekitar kita. Kami membayangkan kampus ini dapat menjadi jembatan untuk memperkenalkan industri Indonesia dan wisata Indonesia kepada mahasiswa mancanegara—mulai dari edu-tourism hingga industrial tourism,” pesannya.

Saat memasuki area kampus President University, Puspa juga menyampaikan rasa bangganya ketika melihat gamelan di lingkungan universitas. “Saya senang ketika masuk ke President University, saya melihat ada gamelan. Karena saya bahagia generasi muda masih mengenal alat musik tradisional,” tuturnya. Ia menegaskan bahwa budaya Indonesia kini dipelajari oleh banyak orang asing. “Ada orang Jepang dan Korea yang datang ke Indonesia untuk belajar gamelan. Jangan sampai mereka lebih mengerti budaya kita hingga akhirnya budaya kita diklaim oleh negara lain,” tambahnya.

Leave A Reply

Your email address will not be published.