Pembatasan Masuk China Masih Ketat, Hotel Internasional Enggan Angkat Kaki
ihgma.com – Pandemi COVID-19 sudah berlangsung lebih dari dua tahun. Namun, kini keadaan sudah mulai membaik dan negara-negara berlomba membuka pembatasan untuk turis asing.
Tapi, keadaan China berbeda karena hingga kini masih memberlakukan peraturan yang sangat ketat. Turis asing dan domestik belum diperbolehkan masuk ke negara tersebut.
Dilansir China Highlights, saat ini hanya tiga kategori yang dipebolehkan masuk ke China, yaitu orang memegang izin tinggal di China sah untuk pekerjaan, urusan pribadi, atau reuni; pemegang visa diplomatik, layanan, kesopanan, atau C; dan permohonan visa China baru.
Selain itu, China masih memberlakukan karantina untuk semua orang yang masuk ke negaranya dan semua biaya ditanggung oleh pribadi masing-masing.

Adapun kebijakan China telah memiliki kebijakan karantina terbaru. Yang di mana masa karantina menjadi 10 hari (“7+3”: karantina terpusat 7 hari dan karantina di rumah 3 hari).
Mereka yang tidak memenuhi syarat untuk melanjutkan karantina rumah dapat melakukan karantina rumah selama 3 hari di hotel yang ditunjuk.
Melihat semua kebijakan yang dimiliki oleh pemerintah China, rasanya cukup bikin penasaran kenapa hotel-hotel internasional di China tidak ada yang angkat kaki dan cenderung bertahan dengan keadaan seperti ini.
Alasan Hotel Internasional di China Tak Angkat Kaki
Melihat keadaan di China, tak lantas membuat hotel internasional untuk angkat kaki. Bahkan, baru-baru ini Accor mengumumkan bahwa akan menambah 400 hotel di China.

Bukan hanya Accor. Marriot, Hilton, dan IHG Hotels & Resorts masih percaya China sebagai peluang pertumbuhan utama untuk perusahaan mereka.
“Perusahaan hotel melihatnya dengan cara yang hampir sama. Strateginya adalah menjadikan China pasar domestik kedua yang terlihat sangat mirip dengan AS,” kata Wakil Presiden Penelitian Ekuitas di Perusahaan Riset Investasi dan Manajemen Kekayaan Bernstein, Harry Martin, seperti yang dikutip Kumparan dari The Points Guy.
Selain itu, China dinilai memiliki populasi yang sangat besar. Sehingga semua hotel di China menargetkan turis domestik yang sedang berlibur untuk menginap.
Menurut data Smith Travel Research (STR), biarpun belum ada turis asing yang masuk ke China, hotel-hotel di sana mengalami peningkatan kunjungan.
Hotel-hotel yang bertahan di China lebih memilih melisensikan hak merek mereka kepada pengembang properti. Itu memudahkan perusahaan hotel untuk mengatasi badai penguncian dibandingkan dengan orang-orang yang benar-benar memiliki properti itu.