Mengulik Rumah Honai, Terinsipirasi dari Sarang Burung

0

ihgma.com, Jakarta – Rumah adat honai merupakan salah satu arsitektur lokal yang masih bertahan hingga saat ini. Rumah honai mudah ditemukan khususnya di lembah-lembah dan pegunungan ketinggian 1.600-1.700 meter di atas permukaan laut. Suku Dani merupakan suku utama yang menggunakan honai sebagai tempat tinggalnya.

Menguktip Tempo dari Indonesia.go.id, rumah honai merupakan tempat tinggal Suku Dani yang berlokasi di lembah Baliem, Kabupaten Jayawijaya, Papua. Secara bahasa, honai atau onai memiliki makna rumah. Salah satu ciri khas Rumah Honai adalah bentuknya yang unik menyerupai jamur dan bewarna cokelat kehitaman.

Bentuk dasar dari Rumah honai adalah lingkaran dengan dinding yang terbuat dari anyaman dan atap berbentuk kerucut terbuat dari jerami. Rumah honai sebagian besar dibuat menggunakan bahan alami yang bisa diperbaharui. Sekilas, rumah honai juga mirip dengan sarang burung.

 Ilustrasi Rumah adat Hoani Papua
Ilustrasi Rumah adat Hoani Papua

 

Melansir dari Buku Rumah Bundar, asal-usul rumah honai tercetus dari ide sarang burung. Sebelum rumah honai tercipta, Suku Dani terlebih dahulu mengamati proses ketika burung membuat sarangnya yang berbentuk bulat guna melindungi dan menghangatkan telur-telur burung. Setelah mengamati, Suku Dani mulai belajar membuat rumah guna melindungi mereka dari cuaca panas, dingin, dan hujan. Akhirnya, terciptalah rumah honai yang dikenal seperti sekarang ini.

Rumah honai pertama kali ditemukan oleh Richard Archbold pada 1938 saat ekspedisi, yang dikenal sebagai Grand Valley. Rumah honai memiliki tinggi 2,5 meter. Ketika dilihat dari udara, rumah honai yang berjejer satu sama lain di sepanjang lembah mirip seperti jamur.

Rumah honai memiliki desain yang unik dan fungsionalis. Dilihat dari bentuk atapnya yang menjuntai ke bawah bertujuan melindungi permukaan dinding supaya tidak terkena hujan. Selain itu, atap ini juga berfungsi sebagai pemberi rasa hangat di dalam rumah. Rumah honai tidak memiliki jendela sebab cuaca di tempat aslinya di Lembah Baliem, Papua mencapai 10-15 derajat celsius saat malam hari. Akses keluar masuk rumah honai menggunakan sistem satu pintu dengan dilengkapi ventilasi kecil untuk menghindari binatang liar masuk.

Leave A Reply

Your email address will not be published.