Jelang Nataru, Hotel-hotel di Jogja Mulai Penuh, tapi…

0

ihgma.com, Jogyakarta – Menjelang Natal 2021 dan Tahun Baru 2021, tamu hotel-hotel di Yogyakarta mengalami peningkatan yang sangat pesat.

Menurut Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Daerah Istimewa Yogyakarta, Deddy Pranowo, peningkatan rata-rata okupansi hotel dikarenakan pelonggaran aturan PPKM Level 2 yang dinilai sangat berpengaruh bagi kehidupan pariwisata di Kota Gudeg.

Sejak saat itu, okupansi hotel DIY mengalami peningkatan yang tajam. Angkanya berkisar 40-70 persen pada hari kerja (weekday) dan 60-90 persen pada akhir pekan (weekend), baik untuk hotel bintang maupun non bintang. Kamar di beberapa hotel bahkan sempat habis dipesan.

“Pada akhir pekan lalu, kami sempat kehabisan kamar. Dalam tanda kutip, karena sebenarnya masih ada kamar tersedia, namun hanya 75 persen yang dioperasikan karena ketentuan prokes,” ujarnya.

Facade atau bagian depan bangunan Artotel Suites Bianti – Yogyakarta.(Dok. Artotel Group)

 

Deddy merinci, angka reservasi hotel untuk periode 22 Desember 2021 hingga 2 Januari 2022, dengan rata-rata reservasi hotel bintang 3 ke atas mencapai lebih dari 60 persen.

“Reservasi di periode 22 Desember – 2 Januari cukup tinggi, rata-rata hotel bintang 3 ke atas sudah mencapai 60,2 persen. Sedangkan hotel bintang dua ke bawah rata-ratanya 40 persen,” lanjut Deddy.

Sebagian besar reservasi ini berasal dari wisatawan luar DIY, dengan tingkat reservasi tertinggi didominasi wisatawan Jawa Timur, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan DKI Jakarta.

Berdasarkan data terbaru dari laman resmi BPS Yogyakarta, okupansi hotel bintang di Yogyakarta pada Oktober 2021 adalah 61,65 persen, mengalami kenaikan 20,52 poin dibandingkan okupansi bulan sebelumnya.

Sedangkan okupansi hotel non bintang juga naik sebesar 4,19 poin dibandingkan okupansi bulan September 2021, yaitu menjadi 17,40 persen.

Assistant Public Relations & Loyalty Manager Swiss-Belboutique Hotel Yogyakarta sekaligus Ketua Himpunan Humas Hotel Yogyakarta, Leno Christiannaldo juga memandang pelonggaran PPKM Level 2 sangat berperan terhadap perbaikan sektor pariwisata dan ekonomi di Yogyakarta.

Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat
Ilustrasi Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat

 

Menurutnya, Yogyakarta dilihat sebagai salah satu kota tujuan wisata utama para pelancong yang ingin menghabiskan waktu libur akhir tahun.

“Kami melihat saat ini Jogja menjadi kota pilihan utama buat traveler yang ingin liburan akhir tahun. Sehingga, harus terus ditingkatkan,” ujar Leno seperti dilansir Kompas.com, Selasa (21/12/2021).

Meski angka okupansi hotel naik, namun industri pariwisata di Yogayakarta sebetulnya masih dalam proses pemulihan setelah hampir dua tahun dihantam pandemi.

Menurut Deddy, pada Mei 2020, misalnya, ada sekitar 100 restoran kecil dan hotel non bintang yang tutup sementara.

“Hampir dua tahun industri pariwisata dihantam pandemi. Mei 2020, ada sekitar 100 restoran kecil dan hotel non bintang yang tutup sementara, tambah lagi 72 tutup permanen.”

“Beberapa bulan terakhir ini baru okupansi meningkat tajam, tapi belum benar-benar membaik,” ungkapnya.

Deddy menambahkan, bagi sebagian hotel atau restoran kecil kenaikan dalam beberapa bulan terakhir ini masih banyak digunakan untuk membayar pajak, pengurusan ijin, sertifikat kelayakan, dan operasional lainnya yang membutuhkan biaya besar.

Bedroom di Swiss-Belboutique Yogyakarta
Bedroom di Swiss-Belboutique Yogyakarta. Foto : doc booking.com

 

Deddy menyebutkan bahwa jumlah karyawan yang dipekerjakan kembali belum banyak meningkat. Saat itu, baru sekitar 30 persen pegawai hotel mulai dipekerjakan kembal setelah hampir dua tahun terdampak pandemi Covid-19.

“Pegawai yang dirumahkan sudah mulai ditarik kembali tapi belum semuanya karena kondisi belum baik-baik saja, masih melihat situasi dan kondisi,” ucap Deddy.

Deddy berharap, okupansi hotel bisa mencapai angka 90 persen sampai momen sebelum Natal dan akhir tahun. Menurutnya hal ini perlu didukung dengan komitmen pemerintah untuk tidak mengubah kembali kebijakan secara mendadak sebelum tanggal tersebut. Sebab, perubahan ini bisa berdampak pada pembatalan reservasi, seperti tahun sebelumnya.

Untuk kembali memulihkan industri pariwisata, Leno Christiannaldo menilai perlu ada kerja sama yang baik antara pemerintah, industri pariwisata, dan para pengunjung. Terutama dalam hal disiplin menerapkan protokol kesehatan.

“Kami harap tamu bisa sadar prokes, cek kesehatan rutin dan jika tidak enak badan harus segera action. Kami dari pengelola hotel juga menjaga dengan swab antigen rutin serta menerapkan aturan,” lanjut dia.

Tak hanya menjaga protokol kesehatan di sekitar lingkungan hotel, diharapkan penerapannya juga disiplin di tempat-tempat wisata, terutama tempat yang sedang viral dan ramai dikunjungi wisatawan. Hal ini harus dilakukan agar tidak terjadi kelonjakan, sehingga tingkat industri pariwisata DIY bisa semakin membaik.

Leave A Reply

Your email address will not be published.