InJourney Hospitality Proyeksikan Okupansi Hotel Naik di Periode Nataru 2026
ihgma.com – InJourney Hospitality memproyeksikan lonjakan tingkat hunian hotel menjadi rata-rata 74% sepanjang periode Natal dan Tahun Baru 2026. Angka ini naik 3,3% dibandingkan dengan tahun lalu dan menjadi salah satu indikator paling awal meningkatnya permintaan leisure di akhir tahun, terutama di Bali yang kembali menjadi klaster dengan performa tertinggi.
Kenaikan okupansi ini menjadi momentum penting bagi ekosistem pariwisata BUMN, mengingat peak season selalu mendorong perputaran ekonomi di daerah destinasi wisata. Di sisi lain, tekanan biaya operasional—mulai dari suplai makanan, kebutuhan logistik, hingga tenaga kerja—menjadi tantangan yang harus diantisipasi agar margin tetap terjaga.
Direktur SDM dan Digital InJourney, Herdy Harman menerangkan momen libur Natal dan Tahun Baru selalu menjadi periode dengan lonjakan mobilitas wisatawan. Sebagai BUMN holding di sektor aviasi dan pariwisata, InJourney Hospitality menghadirkan berbagai program di seluruh aset dan destinasi untuk menarik wisatawan domestik maupun mancanegara.
“Dengan meningkatnya aktivitas perjalanan, perputaran ekonomi juga ikut tumbuh, kami memproyeksikan tingkat okupansi rata-rata mencapai 74%, atau naik 3,3% dari tahun lalu—sebuah indikator optimistis bagi pariwisata Indonesia,” jelasnya, seperti dikutip dari berita Bisnis pada Kamis (20/11/2025).
Menjelang puncak musim liburan pada 18 Desember 2025–4 Januari 2026, InJourney Hospitality memperketat kesiapan operasional. Audit layanan F&B, housekeeping, engineering, serta optimalisasi digital check-in diterapkan untuk menekan bottleneck pelayanan. Perusahaan juga menyiapkan buffer stock logistik hingga 30% untuk meredam risiko supply shock yang biasanya muncul pada periode permintaan puncak.
Dari sisi SDM, persiapan ditujukan menjaga kualitas layanan di tengah kemungkinan lonjakan volume tamu. Human Capital Readiness menjadi salah satu fokus karena wisatawan di segmen festive season biasanya menuntut layanan lebih personal dan responsif.
Perusahaan juga menambah nilai komersial melalui promosi early booking, kolaborasi cross-selling, serta penyusunan thematic event yang diperkuat kurasi pengalaman lokal di masing-masing hotel. Strategi ini bertujuan meningkatkan revenue per available room (RevPAR) tanpa bergantung semata pada kenaikan tarif saat high season.
Christine Hutabarat, Direktur Utama InJourney Hospitality, menegaskan bahwa kombinasi standar global dengan sentuhan kearifan lokal menjadi pembeda layanan InJourney. Pendekatan “Local Soul, Global Standard” tersebut sekaligus diarahkan untuk meningkatkan ekspektasi customer journey di seluruh jaringan hotel BUMN itu.
“Kami ingin memastikan bahwa setiap pengalaman yang diberikan oleh InJourney Hospitality tidak hanya memenuhi kebutuhan tamu, tetapi juga memberikan nilai tambah, relevansi, dan makna yang lebih dalam setiap perjalanannya,” jelasnya.
Dari sisi keberlanjutan, perusahaan menampilkan instalasi pohon Natal ramah lingkungan sebagai bagian dari diferensiasi pengalaman tamu dan implementasi ESG. Mulai dari pohon Natal bambu, kain tenun, hingga kayu sisa produksi, upaya ini menegaskan integrasi sustainability dalam kegiatan komersial perseroan.
Kenaikan okupansi, mitigasi risiko operasional, dan ekspansi program festive menjadi kombinasi yang diharapkan mendorong kinerja InJourney Hospitality pada kuartal IV/2025. Dengan Bali sebagai motor utama, perusahaan menargetkan momentum libur akhir tahun dapat memperkuat kontribusi subsektor akomodasi terhadap pemulihan pariwisata nasional.