ihgma.com – Konsumsi listrik hotel di Bali dinilai belum efisien dan masih belum memenuhi standar bangunan hijau. Menurut catatan Badan Pusat Statistik (BPS), sebagai salah satu destinasi pariwisata dunia, Bali mencatat pertumbuhan properti yang pesat.
Pada 2024, sektor real estate menyumbang 3,84% atau Rp11,45 triliun terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Bali.
Sementara itu, sektor hospitality dengan 593 hotel berbintang dan 8.152 restoran menjadi tulang punggung ekonomi daerah..
Menurut catatan Bali Hotel Association (BHA), penambahan 3.253 kamar baru dari 23 proyek hotel hingga 20.273 serta pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Sanur semakin mempertegas posisi daerah ini sebagai motor pertumbuhan ekonomi sekaligus peluang pembangunan berkelanjutan.
Namun, peningkatan tersebut membawa tantangan serius, khususnya konsumsi energi yang tinggi. Hotel bintang lima di Bali mencatat rata-rata konsumsi 183 kWh per kamar per hari, lebih besar dibandingkan Jakarta (131 kWh per kamar per hari) dan Yogyakarta (85 kWh per kamar per hari).
Data ini menegaskan perlunya pengelolaan energi yang efisien dan berkelanjutan untuk mendukung target Bali Net Zero Emission 2045.
Kepala Balai Teknik Sains Bangunan, Direktorat Jenderal Cipta Karya, Fajar Santoso Hutahaean, menjelaskan kondisi ini sekaligus mendorong Bali untuk tampil sebagai penggerak dalam adopsi bangunan dan hunian berkelanjutan di Indonesia.
Sebagai bagian dari strategi nasional, Kementerian Pekerjaan Umum melalui Direktorat Jenderal Cipta Karya telah menetapkan standar Bangunan Gedung Hijau (BGH) dalam Permen PUPR No. 21/2021 dan Bangunan Gedung Cerdas (BGC) dalam Permen PUPR No.10/2023 guna mendorong pembangunan rendah karbon.
Implementasi regulasi ini, yang kian relevan bagi pertumbuhan pariwisata dan hunian di Bali, membuka peluang replikasi lebih luas guna mempercepat terciptanya ekosistem bangunan berkelanjutan di tingkat daerah maupun nasional.
“Sektor bangunan dan hunian memegang peran besar dalam konsumsi energi sekaligus potensi pengurangan emisi. Penerapan bangunan gedung hijau dan bangunan gedung cerdas menjadi fondasi untuk memastikan pembangunan yang efisien, aman, dan berkelanjutan, termasuk di daerah pariwisata seperti Bali,” ucap Fajar, seperti dikutip dari Bisnia pada Rabu (3/9/2025).
President Director Schneider Electric Indonesia & Timor Leste, Martin Setiawan menjelaskan untuk menghadirkan listrik yang lebih efisien, pentingnya integrasi sistem kelistrikan yang aman dan andal, pemanfaatan teknologi efisiensi energi, serta pendekatan desain menyeluruh dapat mewujudkan hunian yang lebih aman, nyaman, dan ramah lingkungan.
“Transformasi menuju bangunan dan hunian berkelanjutan hanya dapat tercapai jika pemerintah, industri, dan masyarakat bergerak bersama. Schneider Electric menghadirkan teknologi yang modern dan relevan bagi semua orang dalam mendukung bangunan dan hunian berkelanjutan,” ucap Martin.
Sementara itu, Ketua Umum Himpunan Ahli Elektro Indonesia (HAEI), Achmad Sutowo Sutopo, menjelaskan transformasi menuju bangunan rendah emisi, rendah konsumsi listrik tidak semata-mata bergantung pada kecanggihan teknologi.
Teknologi hanya akan efektif bila ditopang oleh kesiapan sumber daya manusia yang kompeten, adaptif, dan visioner.
“Karena itu, HAEI terus mendorong peningkatan kapasitas tenaga ahli elektro melalui pelatihan, sertifikasi, dan forum keilmuan agar mereka mampu menjawab tantangan sekaligus memanfaatkan peluang dari transformasi energi. Dengan SDM unggul yang didukung kolaborasi lintas sektor, Indonesia dapat mempercepat implementasi sistem kelistrikan cerdas di sektor bangunan dan menjadikannya sebagai fondasi penting menuju target Net Zero Emission 2060,” kata Sutopo.