ihgma.com – KAMAR hotel standar menjadi pilihan favorit saat menginap. Namun kini wisatawan lokal memilih kamar hotel kelas superior hingga suite untuk mendapatkan kenyamanan tambahan. Data terbaru menunjukkan bahwa kebiasaan menginap masyarakat bergerak ke arah yang lebih premium, dan tren ini diperkirakan akan semakin menguat pada 2026.
Mengutip berita Tempo dari survey SiteMinder’s Changing Traveller Report 2026, 74 persen wisatawan Indonesia akan memilih kamar hotel superior atau lebih tinggi pada 2026, naik signifikan dari 67 persen pada tahun sebelumnya. Angka ini bahkan lebih tinggi dibandingkan tren global yang menunjukkan 58 persen wisatawan dunia akan memilih kamar superior atau mewah.
Perbandingan preferensi kamar 2026 menunjukkan perbedaan mencolok antara pasar lokal dan global. Hanya 26 persen wisatawan Indonesia yang masih memilih kamar standar, sementara sisanya beralih ke tipe kamar premium, 33 persen memilih superior, 21 persen memilih deluxe, 11 persen memilih eksekutif, dan 9 persen menginap di kamar suite. Persentase tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan rata-rata global, yang hanya mencatat 4 persen untuk kamar eksekutif dan 2 persen untuk suite.
Data ini memperlihatkan bahwa wisatawan Indonesia dua hingga tiga kali lebih mungkin memilih kamar kelas atas dibandingkan wisatawan global. Perubahan preferensi kamar ini berkaitan erat dengan perilaku pemesanan masyarakat.
Pada 2026, sebanyak 59 persen wisatawan Indonesia diprediksi memesan hotel melalui Online Travel Agent (OTA), menjadikan Indonesia sebagai negara dengan dominasi OTA tertinggi dalam survei. Saluran pemesanan lainnya tertinggal cukup jauh, di mana sebanyak 14 persen memesan melalui situs hotel, 13 persen melalui mesin pencarian atau metasearch, 10 persen lewat agen perjalanan, 3 persen lewat telepon atau email langsung ke hotel, dan 2 persen memesan secara mendadak tanpa reservasi sebelumnya.
Dominasi OTA memungkinkan wisatawan membandingkan harga dan fasilitas kamar hotel dengan mudah. Dengan begitu meningkatkan peluang mereka memilih kamar dengan level yang lebih tinggi, terutama ketika ditawarkan dengan diskon atau pembaruan.
Meningkatnya minat pada kamar premium diikuti dengan penerimaan terhadap harga yang lebih fleksibel. Sebanyak 88 persen masyarakat Indonesia setuju atau sangat setuju bahwa hotel berhak menerapkan harga dinamis pada periode populer, naik 2 persen dari tahun sebelumnya. Sedangkan angka global hanya 65 persen. Hal ini menunjukkan bahwa wisatawan lokal memahami mekanisme penyesuaian harga dan bersedia membayar sesuai situasi.
Ketika berbicara tentang overtourism, 66 persen wisatawan Indonesia bersedia membayar lebih tanpa pikir panjang, lalu 23 persen menyatakan bersedia tetapi tergantung pada tujuan wisata, dan hanya 11 persen yang menolak membayar lebih.
Secara keseluruhan, data ini menggambarkan bahwa wisatawan Indonesia semakin matang dalam preferensi dan perilaku perjalanan mereka. Fokus mereka kini mengarah pada kualitas, nilai tambah, dan pengalaman menginap yang lebih baik. Wisatawan yang bersedia membayar ekstra umumnya menginginkan akses prioritas ke destinasi pilihan atau memastikan bahwa dana tersebut bermanfaat bagi masyarakat setempat.