Hotel-hotel di Thailand Turunkan Tarif
ihgma.com – SETELAH empat tahun berturut-turut mengalami kenaikan tarif hampir dua kali lipat dibandingkan dengan 2001, hotel-hotel di Thailand harus menurunkan tarifnya pada tahun ini. Penurunan itu dilakukan sebagai dampak dari berkurangnya jumlah kunjungan wisatawan asing, terutama dari Cina dan pasar utama lainnya ke Thailand.
Industry Spotlight dari Tris Rating, lembaga pemeringkat kredit, memproyeksikan total kedatangan wisatawan mancanegara sebesar 33,1 juta tahun ini, turun 5,6 persen dari 35,5 juta pada 2024. Proyeksi ini mencerminkan perlambatan dari beberapa pasar Asia yang secara tradisional kuat, termasuk Cina, Malaysia, dan Korea Selatan, yang biasanya menjadi basis wisatawan Thailand.
Penurunan Wisatawan Asing
Dikutip Tempo dari Bangkok Post, Kementerian Pariwisata dan Olahraga pada Selasa, 2 September 2025, melaporkan bahwa kedatangan wisatawan mancanegara selama delapan bulan pertama tahun ini turun 7,2 persen dari tahun sebelumnya menjadi 21,9 juta. Namun, terdapat peningkatan kedatangan wisatawan India. India kini berada di peringkat lima besar pasar asal wisatawan Thailand.
Pasar jarak jauh juga menunjukkan kinerja yang baik. Kunjungan wisatawan AS meningkat 7,4 persen dibandingkan tahun sebelumnya dan wisatawan Eropa melonjak 15,6 persen sejauh ini. Thailand masih menjadi destinasi liburan musim panas teratas bagi wisatawan Eropa di platform Agoda untuk tahun kedua berturut-turut.
Tingkat Hunian Hotel Turun
Untuk hotel, tingkat hunian atau okupansi mencapai titik tertinggi pascapandemi pada 2024, melampaui tingkat sebelum pandemi. Namun, hal ini diperkirakan tidak akan berlanjut pada tahun 2025. Turunnya tingkat hunian ini juga disebabkan oleh terus bertambahnya jumlah hotel di Thailand.
Operator hotel memilih untuk menurunkan tarif kamar agar tingkat hunian keseluruhan akan tetap stabil atau sedikit menurun tahun ini. “Kami memandang konflik perbatasan Thailand-Kamboja baru-baru ini sebagai faktor risiko potensial yang, jika meningkat secara signifikan dan berkepanjangan, dapat berdampak negatif pada pariwisata domestik dan internasional hingga batas tertentu,” demikian keterangan Tris.
Jumlah wisatawan Cina diperkirakan akan turun menjadi 4,6 juta tahun ini, dari 6,7 juta pada 2024. Pada tujuh bulan pertama, penurunan telah terjadi sebesar 35 persen. Wisatawan Cina beralih ke destinasi alternatif. Jepang, misalnya, berada di tiga besar dengan pertumbuhan hampir 70 persen year-on-year. Vietnam juga semakin populer dengan pertumbuhan wisatawan Tiongkok sebesar 78 persen year-on-year.