Gaji PNS Kecil, Sosok Ini Pilih Pensiun & Jaya Bisnis Hotel

0

ihgma.com, Jakarta – Bagi sebagian orang menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) merupakan impian banyak orang. Tentu saja salah satu alasannya yaitu karena gaji PNS dan tunjangannya cukup menggiurkan.

Meski begitu, gaji besar tidak langsung diperoleh dalam waktu singkat. Ada berbagai faktor yang memengaruhinya, seperti tingkat pendidikan, masa kerja, jabatan, dan lain sebagainya.

Kendati demikian, ternyata tak semua orang punya pikiran seperti itu. Salah satunya Sukamdani Sahid Gitosadjono. Dia adalah sosok pendiri Hotel Sahid dan pernah dijuluki sebagai ‘Raja Hotel’.

Sahid diketahui pernah menjadi mantri polisi lalu diangkat menjadi pegawai selevel camat setelah Indonesia merdeka. Akan tetapi, kondisi ekonomi Indonesia yang super sulit usai kemerdekaan membuat Sahid berpikir ulang atas jabatan itu.

Foto: Sukamdani Sahid (Tangkapan Layar/Biografi)
Foto: Sukamdani Sahid (Tangkapan Layar/Biografi)

Untuk membangun negara pasca-kemerdekaan saja sulit, apalagi menggaji para PNS. Diketahui, gaji Sahid kala itu membuatnya kurang sejahtera.

Akibatnya, tulis buku Apa & Siapa Sejumlah Orang Indonesia 1983-1984 (1984), Sahid memilih pensiun dini dari PNS. Setelahnya pria kelahiran Solo, 14 Maret 1928, ini bergegas merantau dari Jawa Tengah ke Jakarta pada 1950-an. Tujuannya adalah untuk menyambung hidup.

Beruntung, Sahid langsung diterima kerja di kantor percetakan NV Harapan Masa milik kantor Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Jakarta.

Mengutip CNBC Indonesia dari dalam otobiografi berjudul Sukamdani Sahid Gitosardjono, Wirausaha Mengabdi Pembangunan (1993), Sahid memulai pekerjaan sebagai pegawai biasa.

Perlahan tapi pasti, akibat keseriusan dan kerajinannya, dia diangkat menjadi manajer selama 4 tahun, dari 1953-1957. Barulah setelah pengetahuannya cukup, dia mengundurkan diri dari perusahaan itu untuk mendirikan usaha percetakan sendiri.

Dalam proses pendirian ini, Sahid dibantu dana oleh mertuanya sebesar Rp 25 ribu. Dari sinilah terbentuk CV Masyarakat Baru.

Inilah awal mula bisnis Sahid. Hingga akhirnya bisnis itu makin besar hingga dia berani mengubah bentuk bisnis menjadi PT bernama Tema Baru pada 7 Oktober 1963.

Seiring berjalannya waktu, gurita bisnis Sahid berkembang. Tujuh tahun kemudian, dia mendirikan PT Sahid Trading & Industrial. Co. Lalu, pada 8 Juli 1965, berani merambah industri hotel.

Ketika mendirikan hotel, Sahid bisa dibilang sangat nekat. Pasalnya, 1965 menjadi tahun krisis bagi ekonomi dan politik Indonesia. Terjadi inflasi super tinggi yang dibarengi ketegangan politik.

Tentu pendirian hotel tidak ada urgensi besar ketika itu. Siapa juga yang mau berwisata ke negara yang sedang ‘panas’? Apalagi hotelnya berada di Solo, bukan Jakarta.

Namun, Sahid tetap teguh untuk berbisnis hotel. Dia percaya suatu saat nanti hotel bentukannya bakal berguna.

Sahid dalam memoar Sukamdani S.G.: Otobiografi II (2001) menceritakan berkat besarnya kepercayaan diri membuat Sultan Hamengkubuwono IX mengacungi jempol. Dia bangga terhadap Sahid.

Singkat cerita, kepercayaan Sahid benar-benar terbukti. Pergantian rezim ke Jenderal Soeharto di tahun 1965-1966 membuat situasi berubah 180 derajat. Kondisi ekonomi dan politik mulai membaik. Arus wisatawan juga mulai membaik.

Pada titik inilah, bisnis hotelnya cukup sukses. Dari semula hanya 50 kamar berkembang pesat menjadi 121 kamar.

Seiring membaiknya kondisi Indonesia era 1970-an jelas membuat Sahid ibarat tertimpa durian runtuh. Banyaknya pendatang membuat bisnis hotel Sahid sangat berjaya.

Hingga akhirnya, dia mendirikan Hotel Sahid di Jakarta pada 23 Maret 1974. Hotel Sahid terbilang cukup besar di masanya karena punya 400-an kamar.

Semasa Orde Baru, Sahid dalam memoarnya menyebut punya 15 hotel dengan lebih 3.000 kamar di seluruh Indonesia. Tak heran, apabila orang menyebutnya sebagai raja hotel.

Dari bisnis hotel inilah dia bisa berekspansi memulai menjalani lini bisnis lain. Diketahui, Sahid juga berbisnis di industri media, asuransi, hingga properti.

Leave A Reply

Your email address will not be published.