Destinasi Bermutu untuk Wisatawan Berkualitas

0

ihgma.com – JIKA dikilas balik, jumlah kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) terbanyak ke Indonesia terjadi pada tahun 2019 dengan jumlah 16,11 juta wisatawan. Jumlah ini adalah kenaikan 1,88 persen dari tahun 2018 dengan jumlah wisman 15,81 juta orang. Tahun 2020, ketika pandemi mulai terjadi, jumlah wisman yang berkunjung terjun bebas hingga “hanya” mencapai 4,05 juta orang.

Tahun ini ketika pandemi dianggap mulai terkendali walau dalam beberapa minggu terakhir penularan Covid mulai merangkak naik, terbetik berita bahwa pemerintah melalui Kemenparekraf menargetkan 1,5 juta wisman berkualitas datang ke Indonesia khususnya Bali. Wisatawan berkualitas? Istilah ini mengacu pada karakteristik wisatawan yang banyak menghabiskan waktu dan uang ketika berwisata.

Semakin lama (length of stay) dan banyak rata-rata uang (average spending per arrival) yang dikeluarkan untuk keperluan wisata semestinya memberikan efek pengganda (multiplier effect) yang makin menguntungkan bagi perekonomian suatu daerah.

Membuka kesempatan kerja baru dan meningkatkan pendapatan masyarakat. Seperti pernah dikemukakan Wisnutama, mantan Menparekraf, wisman yang berkunjung ke Indonesia rata-rata menghabiskan 1.220 dollar AS atau Rp 18,056 juta (pada nilai tukar Rp 14.800 per dollar AS).

Ilustrasi destinasi wisata Raja Ampat ((Dok. Shutterstock) )
Ilustrasi destinasi wisata Raja Ampat ((Dok. Shutterstock) )

Sebagai pembanding di Selandia Baru rata-rata wisman mengeluarkan 5.000 dollar AS atau sekitar Rp 74 juta. Wisatawan berkualitas semestinya akan mendukung pelestarian lingkungan karena menyeimbangkan kuantitas wisatawan yang datang dengan daya dukung lingkungan.

Selain itu semestinya mereka relatif telah teredukasi sehingga tidak memicu kontroversi dengan masyarakat sekitar karena perilaku yang tidak pantas.

Wisatawan yang mengikuti kegiatan MICE (Meeting, Incentive, Convention, Exhibition) masuk dalam kategori ini atau yang berkaitan dengan acara khusus seperti sport tourism dan ecotourism (ekowisata).

Tanpa bermaksud merendahkan wisatawan yang tidak masuk kategori “berkualitas”, wisman yang biasa-biasa saja mungkin dianggap penggembira karena dianggap kalah menguntungkan. Walau kenyataannya wisatawan “biasa-biasa” masih mendominasi dan tidak mudah juga meningkatkan jumlah kunjungannya.

Labuan Bajo.(SHUTTERSTOCK)
Labuan Bajo.(SHUTTERSTOCK)

Melansir Kompas, destinasi bermutu Untuk menarik wisman berkualitas semestinya tidak begitu saja datang tiba-tiba tanpa ada penawaran khusus. Logika sederhana adalah untuk mendatangkan wisman berkualitas dibutuhkan destinasi yang juga menawarkan mutu bagus.

Dibutuhkan persiapan menyeluruh. Setidaknya terdapat tiga aspek penentu kualitas suatu destinasi wisata (Mukherjee, Adhikari, Datta, 2017).

Pertama, kualitas jasa. Kualitas jasa meliputi keamanan, informasi, regulasi, dan staf. Kualitas destinasi pertama-tama diukur dari keamanan yang menciptakan pikiran tenang (peace of mind) bersamaan dengan penyampaian informasi jelas kepada wisatawan.

Kesadaran akan brand suatu destinasi yang baik akan mengurangi waktu, upaya, dan biaya pencarian informasi serta berkontribusi positif terhadap pilihan destinasi.

Pulau Tidung (Bisniswisata.co.id)
Pulau Tidung (Bisniswisata.co.id)

Faktor lain yang terkait bisnis seperti akses internasional, kekuatan mata uang lokal, kebijakan pemerintah, stabilitas politik, lokasi geografis dan fasilitas lokal turut menjadi penentu kualitas destinasi (Enright dan Newton, 2004).

Kualitas staf yang terlibat juga memberikan kontribusi dalam hal pengetahuan, kefasihan berbicara, keramahtamahan, sikap, empati dan ketanggapan.

Kedua, kualitas fitur destinasi. Aspek ini meliputi kualitas makanan, transportasi, akomodasi, atribut, dan nilai penawaran.

Kualitas makanan menjadi hal utama dari fitur destinasi karena tidak sedikit wisman yang hadir karena daya tarik kuliner yang didukung oleh sarana dan prasarana memadai.

Walau wisman berkualitas menjanjikan kuatnya daya beli, sisi penawaran wisata yang “value for money” tetap menjadi perhatian. Wisata berkualitas tidak berarti ditawarkan dengan harga tinggi, namun mengabaikan “nilai” yang diterima wisatawan.

Ketiga, kualitas pengalaman. Aspek ini meliputi tanggapan emosional, keunikan, kualitas orang, dan iklim. Wisman datang untuk mencari pengalaman yang melibatkan emosi secara positif. Kualitas pengalaman merujuk pada kegembiraan, kenikmatan, dan pengalaman yang hadir dari atraksi di tempat wisata.

Ini juga tidak lepas dari kualitas personel hingga meminimalkan hambatan bahasa dan meningkatkan pengalaman yang mendorong wisman untuk datang kembali. Kualitas iklim turut juga menciptakan berbagai aktivitas di destinasi seperti sport tourism atau sekadar menikmati suasana alam.

Akhirnya, menghadirkan wisman berkualitas harus dibarengi dengan menciptakan destinasi yang juga berkualitas. Tarif yang tinggi pada sejumlah destinasi mungkin menjadi sinyal pasar yang dituju. Walau pendekatan yang dilakukan semestinya tidak sesederhana itu.

Indonesia memang belum dipadati wisman, namun tampaknya wisata untuk pasar yang khusus ini cukup menyita banyak perhatian. Indonesia dengan keanekaragaman alamnya yang luar biasa memang memiliki potensi besar untuk menjadi destinasi utama kelas dunia. Target 1,5 juta wisman berkualitas jadi terasa mini.

Leave A Reply

Your email address will not be published.