Bhinneka Tunggal Ika Cocok Jadi Masa Depan Dunia, Kok Bisa?

0

ihgma.com, Jakarta – Bhinneka Tunggal Ika, semboyan negara Indonesia yang memiliki arti berbeda-beda tetapi tetap satu juga diyakini juga bisa berlaku secara internasional. Rasa persatuan hendaknya tetap dikedepankan di tengah berbagai kepentingan yang sering memecah belah bangsa di dunia.

Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Antonio Guterres memuji semboyan Bhineka Tunggal Ika yang diakuinya bahkan bisa menjadi pemersatu dan penjaga keberagaman di Kawasan Asia Tenggara bahkan dunia.

“Bhinneka Tunggal Ika adalah kesatuan dalam keberagaman. Ini bukan hanya moto nasional Indonesia. Ini adalah kunci untuk membangun masa depan yang lebih baik bagi kita semua,” kata Guterres saat memberikan keterangan di hadapan media asing dan nasional di Media Center Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ke-43 ASEAN Jakarta seperti dilansir CNBC Indonesia, Kamis (7/9/2023).

Guterres pun mengakui peran konstruktif ASEAN di bawah kepemimpinan Indonesia di 2023 dalam menciptakan perdamaian, khususnya dalam upaya meredakan ketegangan di Laut Cina Selatan hingga Semenanjung Korea dengan mengedepankan dialog dan mendorong penghormatan terhadap hukum internasional.

Presiden RI Joko Widodo (kelima kiri) bersama (dari kiri) Presiden Filipina Ferdinand Marcos Jr., Perdana Menteri Singapura Lee Hsien Loong, Head of Delegation of The Kingdom of Thailand Sarun Charoensuwan, Perdana Menteri Vietnam Pham Minh Chinh, Perdana Menteri Laos Sonexay Siphandone, Sultan Brunei Darussalam Hassanal Bolkiah, Perdana Menteri Kamboja Hun Manet, Perdana Menteri Malaysia DatoÕ Seri Anwar Ibrahim dan Perdana Menteri Timor Leste Xanana Gusmao berfoto bersama saat pembukaan ASEAN Indo-Pasific-Forum (AIPF), Jakarta, Selasa (5/9/2023). Media Center KTT ASEAN 2023/Risa Krisadhi/pras. (ANTARA FOTO/Risa Krisadhi)
Presiden RI Joko Widodo (kelima kiri) bersama (dari kiri) Presiden Filipina Ferdinand Marcos Jr., Perdana Menteri Singapura Lee Hsien Loong, Head of Delegation of The Kingdom of Thailand Sarun Charoensuwan, Perdana Menteri Vietnam Pham Minh Chinh, Perdana Menteri Laos Sonexay Siphandone, Sultan Brunei Darussalam Hassanal Bolkiah, Perdana Menteri Kamboja Hun Manet, Perdana Menteri Malaysia DatoÕ Seri Anwar Ibrahim dan Perdana Menteri Timor Leste Xanana Gusmao berfoto bersama saat pembukaan ASEAN Indo-Pasific-Forum (AIPF), Jakarta, Selasa (5/9/2023). Media Center KTT ASEAN 2023/Risa Krisadhi/pras. (ANTARA FOTO/Risa Krisadhi)

Pada kesempatan tersebut, Sekjen PBB turut menggarisbawahi terkait konflik di Myanmar dan menyampaikan keprihatinannya.  Dirinya pun mengapresiasi dan mendukung berbagai upaya Indonesia untuk menuntaskan isu Myanmar dengan melibatkan semua pihak yang berkonflik.

Untuk itu Guterres mendesak semua negara agar mencari strategi terpadu untuk mengatasi krisis di Myanmar. Ia menggarisbawahi nilai-nilai kemanusiaan yang harus menjadi hal utama untuk diperhatikan.

“Kami mendukung langkah ASEAN dalam mencari solusi untuk mengatasi situasi politik di Myanmar. Ini waktunya bagi dunia internasional untuk memberikan bantuan terhadap para pengungsi Rohingya di Bangladesh,” ujar Guterres.

Sebelumnya, Menteri Luar Negeri (Menlu) RI, Retno Marsudi mengatakan terus mendorong upaya turut mengatasi krisis Myanmar. Terutama dalam mengimplementasikan pendekatan Lima Poin Konsensus (5PC) yang mana dalam praktiknya dibutuhkan pendekatan (engagement) dari semua pihak yakni para Menlu ASEAN.

Lima Poin Konsensus itu berisi menyerukan penghentian segera kekerasan, dialog di antara pihak-pihak terkait, mediasi oleh utusan khusus ASEAN, pemberian bantuan kemanusiaan, dan kunjungan ke Myanmar oleh utusan khusus untuk bertemu semua pihak terkait.

Saat rangkaian sesi retreat dalam KTT ke-43 ASEAN di JCC, Selasa (5/9/2023), semua pemimpin negara ASEAN mengapresiasi apa yang sudah dilakukan Indonesia. Di mana dalam 9 bulan terakhir Indonesia telah melakukan 145 pendekatan.

Adapun komitmen ASEAN untuk terus membantu rakyat Myanmar dengan menyepakati pembentukan troika antara current Chair, previous Chair, and next Chair. Keterwakilan non-politis Myanmar dipertahankan.

Guterres pun menyatakan membutuhkan pern ASEAN sebagai lembaga multilateral yang dapat menjembatani perbedaan dan membangun kesepahaman.

“Kita membutuhkan hal ini lebih dari sebelumnya di dunia yang semakin terbelah dan memutuhkan lembaga multilateral yang kuat untuk mengikutinya, berdasarkan kesetaraan, solidaritas, dan universalitas,” kata Guterres.

Leave A Reply

Your email address will not be published.