Tanjung Lesung: Perjuangan Panjang Mewujudkan Nusa Dua di Ujung Barat Jawa
ihgma,com, Tanjung Lesung – Pada tahun 1986, Pemerintah Provinsi Jawa Barat bekerja sama dengan Japan International Cooperation Agency (JICA) menyusun sebuah studi kelayakan (feasibility study) untuk pembangunan kawasan wisata terpadu di Banten Selatan.
Tujuannya sederhana namun strategis: mengurangi kesenjangan kesejahteraan antara masyarakat Banten Utara yang relatif maju dengan Banten Selatan yang kala itu masih tertinggal.
Dalam studi tersebut, Tanjung Lesung diproyeksikan sebagai “Nusa Dua”-nya Banten, sebuah destinasi wisata kelas dunia yang mampu menjadi motor ekonomi baru.
Pemerintah Jepang bahkan membiayai studi ini sebesar USD 2,5 juta, dengan harapan Pemerintah Indonesia segera menindaklanjuti hasilnya dengan pembangunan infrastruktur vital—mulai dari lapangan terbang, jalan tol, hingga marina. Harapannya, dukungan infrastruktur akan menarik minat investor swasta untuk ikut serta.

Namun, realitas tidak semudah itu. Bagi para pengembang, proyek ini dianggap berisiko tinggi dan berjangka sangat panjang. Modal yang ditanamkan berpotensi baru kembali setelah 20–25 tahun, sehingga tak satu pun investor berani mengambil langkah nyata.
Peran Joop Ave dan Sudwikatmono
Di tengah kebuntuan itu, Joop Ave, Menteri Pariwisata pada era Orde Baru, turun tangan. Dengan penuh diplomasi, beliau berhasil meyakinkan Sudwikatmono—adik Presiden Soeharto sekaligus co-founder dan Komisaris Utama PT Jababeka—untuk mengembangkan proyek ini.
Namun, sebelum rencana besar itu benar-benar terealisasi, pemerintahan Orde Baru jatuh. PT Banten West Java Tourism Development Corporation (BWJ TDC), yang didirikan dengan model serupa Bali TDC, berjalan terseok-seok tanpa kepastian arah.