Sisi Gelap Pariwisata Bali di Mata Turis Asing

0

ihgma.com, Jakarta – Bali dianggap sebagai destinasi liburan tropis yang penuh dengan pantai, air terjun, pura, dan pencarian jati diri.

Namun, beberapa wisatawan menilai surga tropis itu tak seindah unggahan di media sosial. Mereka mengungkap sisi gelap Bali yang jarang ditangkap para pengguna media sosial dan influencer.

Dengan hutan lebat, puncak gunung berapi, pantai yang tenang, dan akar spiritualnya, Bali sering menjadi tujuan utama bagi mereka yang membutuhkan wellnes tourism. Namun, seiring dengan terus melonjaknya jumlah wisatawan, pulau ini dinilai memiliki masalah sampah, hingga infrastruktur yang buruk dan lalu lintas yang kacau.

Mengutip berita dari Tempo, berikut beberapa sisi gelap Bali yang diungkap turis asing, seperti dilansir Daily Mail, 30 Juli 2025.

1. Masalah Sampah

Beberapa turis asing mengungkap tumpukan sampah di dekat objek wisata alam populer, termasuk air terjun dan pantai. Sampah plastik mendominasi, terutama selama musim hujan ketika sampah terdampar di pantai dalam jumlah besar.

Influencer kebugaran dan perjalanan, @resurgent_harry, mengatakan dalam sebuah video bahwa wisatawan tidak bisa lari karena ada sampah di mana-mana. “Pantai-pantainya tertutupi sampah,” kata dia.

Blogger perjalanan Dale Philip juga merasa kecewa setelah mengunjungi tempat berfoto populer, Air Terjun Pengempu.

“Saya sudah melihat tempat ini tampak menakjubkan di banyak foto yang mencolok dan glamor, tetapi ketika saya tiba di sana, saya mendapati tempat ini dipenuhi sampah,” kata dia dalam sebuah unggahan di media sosial yang memperlihatkan tumpukan sampah dan botol plastik di sepanjang dasar sungai.

2. Pariwisata Berlebihan

Pariwisata berlebihan atau overtourism di Bali selatan merupakan salah satu faktor penyebab kekacauan di pulau ini. Pura-pura yang tenang dan jalur alam kini dipenuhi wisatawan, yang menyebabkan antrean panjang, bising, dan perasaan tidak autentik bagi banyak pengunjung.

Seorang kontributor TropEcoTravel menulis bahwa pariwisata berlebihan telah merusak hati dan jiwa Bali yang sesungguhnya. “Saya tidak tahu seperti apa Bali sebelum serbuan turis dan plastik, tetapi saya membayangkannya sebagai surga tropis dengan penduduk lokal yang makmur dan lanskap yang masih alami,” tulis dia.

Pada 2024, Majalah Fodors menobatkan Bali sebagai destinasi utama yang harus dihindari, dengan beberapa lokasinya yang padat turis. “Lokasi-lokasi ini populer karena alasan yang bagus – mereka menakjubkan, menarik, dan penting secara budaya. Namun, beberapa tempat wisata yang sangat didambakan ini runtuh karena beban ketenaran mereka sendiri.”

3. Macet

Jalanan Bali yang sempit, keterbatasan transportasi umum, dan lonjakan pengunjung membuat kemacetan lalu lintas menjadi hal yang biasa di daerah-daerah populer. Harry Mackarness, yang menghabiskan dua bulan di Pulau Dewata, mengatakan kunjungannya membuatnya sangat tertekan, kecewa, dan bertekad untuk tidak pernah kembali.

Dalam ulasan pedas di YouTube, Mackarness mengklaim pulau itu terbebani oleh pariwisata massal yang menyebabkan kemacetan lalu lintas. Ia juga menyebut industri pariwisatanya lebih mementingkan keuntungan daripada keramahan.

“Ke mana pun Anda pergi, ada sampah, konstruksi, atau penipuan,” katanya. “Infrastrukturnya tidak mampu menampung banyaknya orang yang tertipu oleh mimpi ini.”

Jamie, seorang blogger perjalanan dari Durham, Inggris, menulis di blognya bahwa Bali tidak dapat menampung lebih dari empat juta pengunjung per tahun. Bukan rahasia lagi bahwa jalanan Bali sangat macet. “Pada hari-hari biasa di Ubud, pusat budaya, setiap jalan masuk dan keluar dipenuhi lalu lintas yang macet total. Anda tidak bisa pergi ke mana pun tanpa berjalan kaki dan menghirup udara yang tercemar,” kata dia.

Will Hatton, kontributor World Nomads, menggambarkan lalu lintas di Bali yang kacau. Banyak pengemudi sepeda motor mengendarai kendaraan tanpa helm.

4. Jebakan turis dan calo

Harga-harga melambung di sekitar spot wisata seperti pura, pasar, dan tempat wisata aka

Komersialisasi yang berlebihan telah menyebabkan apa yang digambarkan beberapa orang sebagai promosi agresif dan harga yang melambung di dekat pura, pasar, dan tempat wisata alam populer.

Menurut Jamie, pemilik blog wisata Jamie Chance Travels, mengatakan bahwa wisatawan yang berjalan-jalan di Bali sebaiknya jangan berharap tenang.

“Di mana-mana ada yang menjual sesuatu. Saya tidak mengunjungi Sawah Terasering Tegalalang karena alasan ini. Saya dengar Anda harus membayar di awal untuk masuk. Lalu ada pembayaran tambahan kepada ‘staf’ agar bisa menyusuri terasering,” kata dia.

Ia mengatakan, jika ingin berkeliling Bali, cara terbaik adalah menyewa sopir sendiri seharian. Sebab, transportasi umum praktis tidak ada dan taksi sering menawarkan harga tinggi.

5. Ramai Influencer

Kepopuleran Bali membuat banyak influencer berdatangan. Mereka syuting terus-menerus yang melemahkan daya tarik pulau ini. Terlebih lagi, para influencer sering kali menampilkan versi Bali yang dikurasi dan diidealkan di media sosial, yang dapat menciptakan ekspektasi yang tidak realistis bagi wisatawan lain.

Zoe Rae, seorang turis Inggris, meninggalkan Bali hanya 48 jam setelah ia tiba karena pulau ini dianggap tidak memenuhi ekspektasi.

Pesta yang ramai, klub pantai, dan perilaku tidak sopan dari pengunjung yang mabuk juga meninggalkan kesan buruk. Banyak wisatawan menyalahkan turis yang gaduh karena merusak suasana Bali.

Leave A Reply

Your email address will not be published.