Okupansi Hotel di Bali 55 Persen, Pengusaha Duga akibat Ekonomi Lesu
ihgma.com – Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Bali Tjokorda Oka Artha Ardana Sukawati alias Cok Ace menyebutkan, rata-rata okupansi hotel di Bali selama libur Lebaran 2025 hanya mencapai 50-55 persen.
Ia menduga efisiensi anggaran dinas hingga kondisi ekonomi domestik menjadi penyebab lesunya okupansi hotel di Bali.
“Dari pengalaman libur Lebaran sebelumnya, target (okupansi) kami bisa mencapai 80-85 persen,” ujar Cok Ace seperti dikutip dari berita Kompas pada Rabu (2/4/2025).
Jadi, bila mengacu pada target keterisian hunian hotel selama libur Lebaran, angkanya belum mencapai sasaran.
Sementara itu, di beberapa destinasi populer, okupansi hotel masih lebih tinggi dari rata-rata di seluruh Bali. Namun, masih terdapat juga banyak kamar hotel yang tak terisi.
Di Sanur misalnya, okupansi hotel mencapai 80-85 persen. Sementara di Ubud okupansinya mencapai 70-75 persen, sedangkan okupansi hotel di Nusa Dua mencapai 70 persen dan Kuta sebesar 70-75 persen.
Selain empat destinasi populer tersebut, Cok Ace menyebutkan, masih banyak akomodasi di wilayah lain di Bali.
Cok Ace menyebut beberapa penyebab okupansi hotel di Bali tak mencapai target libur Lebaran tahun ini. Salah satunya, kebijakan pemerintah soal efisiensi anggaran yang juga dikeluhkan banyak pengelola hotel. Belum lagi keberadaan vila-vila baru yang kian menjamur dan kondisi ekonomi negara saat ini.
“Kondisi ekonomi domestik juga menyebabkan para pengusaha berpikir ulang untuk bepergian,” kata Cok Ace.
Selain itu, masih ada faktor lain, seperti cuaca ekstrem dan tanggal libur Lebaran 2025 yang berimpitan dengan Hari Raya Nyepi. Hari Raya Nyepi 2025 jatuh pada 29 Maret, sedangkan Idul Fitri ditetapkan pada 31 Maret 2025. Hanya berselang dua hari.
Meski hotel di Bali tetap beroperasi selama Nyepi, aktivitas tamu yang menginap sangat terbatas karena tidak boleh berkegiatan di luar hotel.