Saat Wisata Melewati Batas
ihgma.com – Pemerintah Provinsi Bali berencana memungut biaya $10 atau setara Rp150 ribu kepada turis asing yang masuk Pulau Dewata. Rencana tersebut mendapat respons dari sejumlah turis asing yang tengah berlibur di Bali. Ada yang pro dan ada juga yang tidak sepakat.
Namun Bali tidak berdiri sendiri. Imbas negatif dari tourism juga mulai meresahkan banyak negara. Kita bisa melihat apa yang terjadi di Belanda.
Negeri Kincir Angin ini ingin membatasi para wisatawan. Seperti kita ketahui, wisatawan berduyun-duyun berkunjung ke negara Eropa dalam jumlah besar. Belanda telah menjadi korban popularitasnya sendiri karena kepadatan turis (overtourism). Istilah ‘kepadatan turis’ ini terdengar seperti hal yang baik atau kabar bagus tapi ternyata itu tidak sepenuhnya tepat dan benar.
Istilah ini mengacu pada peningkatan besar dalam jumlah wisatawan. Pada dasarnya fakta ini menujukkan terjadinya peningkatan volume para pelancong sehingga mendatangkan hal-hal buruk dan yang tidak dikehendaki.
Pelancong yang berlebihan berdampak negatif terhadap penduduk dan lingkungan suatu negara. Sebagai contoh adalah Amsterdam, ibu kota Belanda. Kota ini menarik 20 juta pengunjung setiap tahun.
Orang-orang tertarik ke kota ini karena kanal dan museumnya. Dan jujur saja Amsterdam juga punya reputasi sebagai kota pesta. Tapi kota yang digelari Venice of the North ini ingin berubah dengan membatasi jumlah wisatawan.
Sekarang Amsterdam tengah memberlakukan larangan atas kapal pesiar dari pusat kota. Bayangkan, lebih dari 100 berada di ibukota Belanda setiap tahun. Ini menjadi masalah besar. Kapal-kapal pesiar ini menyumbang bagi pariwisata massal dan polusi.
Untuk diketahui, satu kapal pesiar besar mengundang atau membuat asma kambuh dari nitrogendioksida yang dihasilkan sama dengan 30.000 truk dalam sehari. Karenanya Amsterdam betul-betul berusaha untuk membatasi jumlah pelancong saat ini.
Pada Maret lalu, Amsterdam meluncurkan kampanye daring untuk menghentikan para pemuda mengadakan pesta berbahan bakar dan berbasiskan alkohol.
Kampanye ini disebut Stay Away. Amsterdam juga melarang ganja di kawasan red light dan ingin menaikkan pajak wisata. Saat ini Amsterdam adalah kota dengan pajak wisata tertinggi di Eropa seperti dikutip dari Kumparan.
Tahun lalu kota ini memperoleh sekitar $155 juta dari pajak wisata. Tetapi ini sama sekali tidak mencegah para pengunjung untuk tetap datang berbondong-bondong.
Yang berlaku hari ini adalah ledakan wisata pascapandemi atau apa yang disebut ‘wisata balas dendam’ (revenge tourism). Yunani mengharapkan 30 juta wisatawan tahun ini. Spanyol sudah dikunjungi 8,2 juta wisatawan untuk bulan Mei saja.
Biaya penerbangan telah meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Harga kamar hotel telah terjual lebih dari 50 persen. Pajak wisata meningkat, namun orang-orang tidak gentar. Mereka ingin bepergian ke negara-negara yang jauh.
Lalu, apa yang dilakukan para wisatawan saat mereka sampai di daerah tujuan? Biasanya adalah mengambil berfoto swadiri (selfi click). Tidak ada yang membenci atau melarangnyanya seperti yang dilakukan oleh Italia.
Portofino, salah satu daerah pantai di Italia, dikunjungi oleh begitu banyak wisatawan. Saking banyaknya, lautan pengunjung sampai memblokir lalu lintas. Turis kerap kali terjebak dalam posisi berfoto selfie.
Oleh karena itu, kota ini telah memberlakukan denda $300 bagi yang mengambil foto selfie di jalan-jalan, meskipun pariwisata adalah daya tarik besar bagi Italia. Sektor pariwisata berkontribusi 13 persen bagi produk domestik bruto negara itu.
Italia mulai keteteran atas realitas wisatawan yang melimpah dan mulai menerapkan langkah-langkah tegas. Sebagai misal, berjalan dengan sandal jepit di jalan-jalan tertentu bisa berakibat denda mulai dari $56 hingga $2,827.
Makan camilan di pusat kota Venesia tidak diizinkan dan duduk di tangan-tangga kota Roma bisa dikenakan denda $270. Bahkan satu pantai di Italia melarang pengunjung membuat istana pasir. Dan daftar itu tampaknya tidak ada habisnya.
Kepadatan turis bukan hanya masalah Eropa. Tempat-tempat seperti Bali (Indonesia), Bhutan, Peru dan Thailand juga mengalami hal yang sama. Negara-negara ini telah memberlakukan langkah-langkah ketat mulai dari meningkatkan pajak wisata hingga menerapkan larangan mendaki gunung seperti di Bali.
Jelas bahwa pariwisata memberikan dampak yang baik untuk suatu negara. Ia membantu menciptakan lapangan kerja, tetapi adakalanya pariwisata berkembang melewati batasnya.
Wisata telah berubah dari tujuan awalnya dan menyisakan residu yang menyusahkan; kepadatan, kemacetan dan kerusakan bagi masyarakat dan lingkungan.
Terus terang, ini berefek buruk bagi warga lokal dan juga mendatangkan stres bagi pengunjung. Anda mungkin melihat lokasi yang indah di Instagram.
Tetapi begitu lokasi itu dikunjungi, yang ada adalah menunggu dalam antrean panjang dan gangguan kamera telepon saat menikmati pemandangan matahari terbenam.
Akhirnya semua aktivitas mengunjungi tempat asing atau baru terkunci oleh tujuan yang sama; bidikan cuan dan numpang beken lewat Instagram, TikTok dan media sosial lainnya.