Tersertifikasi CHSE dan Prokes Ketat, Hotel-hotel di Bali Mulai Pasang Paket Promo Liburan Nataru
ihgma.com – Ribuan event Natal dan Tahun Baru sebelumnya sempat batal karena kebijakan PPKM Level 3 yang rencananya akan diterapkan oleh Pemerintah Pusat. Namun belakangan diketahui, kebijakan tersebut batal diterapkan, para pelaku pariwisata optimis menyambut perayaan Nataru.
Antusias mereka salah satunya bisa dilihat dari tersedianya paket-paket promo liburan akhir tahun. Hal ini menjadi kebiasaan setiap akhir tahun, sebab umumnya wisatawan menghabiskan akhir tahun dengan liburan.
“Tentunya teman-teman hotel yang beroperasi akan mengambil kesempatan Nataru ini untuk mengejar bisnis akhir tahun.
Promo-promo spesial kamar sudah mulai dikeluarkan, mengingat SE Inmemdagri Nomor 66 yang mengatur periode Nataru 24 Desember 2021 sampai 2 Januari 2022 sudah terbit.
Kami berharap promo ini didukung oleh airlines juga, sehingga dapat menjadikan destinasi Bali lebih hidup,” ucap, Fransiska Handoko, ketua wanita pertama Bali Hotel Association pada, Rabu 15 Desember 2021 seperti dilasnir Bali Tribun.
Lebih lanjut ia mengatakan, salah satu paket promo yang diberikan pihak-pihak hotel yakni penurunan harga menginap. Yang mana, BHA memberikan kebijakan ini kepada pengelola hotel masing-masing.
Pihaknya menekankan agar para wisatawan tak khawatir untuk menikmati liburan di Bali. Sebab, setiap hotel di Bali kini sudah menerapkan protokol kesehatan yang ketat dan tersertifikasi CHSE. Protokol kesehatan yang benar-benar ketat sudah diterapkan di seluruh hotel yang ada di Bali.
“Hingga saat ini belum mendapat informasi terbaru terkait total paket promo Nataru yang terjual di setiap hotel.
Namun, saya berharap setiap hotel bisa mendapatkan tamu wisatawan domestik (wisdom) secara merata. Tentunya ini agar sama-sama bisa survive,” sambungnya.
Kendati demikian, ia menegaskan, Bali tidak bisa hidup hanya dari wisatawan domestik saja. Kedatangan wisatawan domestik ke Bali tidak cukup untuk pelaku pariwisata bertahan di situasi ekonomi.
“Kami tetap sangat berharap agar policy open border Bali segera dapat direvisi untuk menyelamatkan ekonomi,” tuturnya.